sumber: http://psaptarani.multiply.com/reviews/item/12

 

Malang Tempo Doeloe
for everyone
Category: Books
Genre: History
Author: Dukut Imam Widodo
 


”... Merokok itu bahasa Malangnya ngoker. ... terasa sekali sedapnya, apalagi jika disertai dengan secangkir ipok (kopi). Aah, itu saja masih belum seberapa. Jika ditambahi dengan bentul goreng atau senjem (menjes) yang masih hangat. Atau bisa juga dengan jemblem. Moro tuwa liwat ae gak disopo! ...”
(Malang Tempo Doeloe - bab Oker)

Buku ini didapat di book counter hotel Tugu, Malang. Empat ratus ribu rupiah untuk dua jilid rasanya sepadan dengan kualitas cetakan yang bagus maupun isinya yang lumayan lengkap dari jaman Majapahit sampai saat ini, dan cara penyampaian sejarah kota Malang yang benar-benar ala kera ngalam; mengalir, enak diikuti, gak bikin kening berkerut, bahkan jargon-jargon yang diselipkan sering membuat pembacanya cengengesan. Daftar isinya pun campuran kalimat berbahasa Jawa Timur-an, bahasa Belanda dan bahasa Indonesia ejaaan lama maupun baru, seperti ini: ”Monggo Dipun Sruput”, ”Hayam Wuruk Uklam-Uklam ke Malang”, ”De Smeroe”, ”Bal-balan”, ”Kajoetangan”, ”Nama-Nama Jalan Tempo Doeloe”, dll.

Buku Malang Tempo Doeloe sangat pas dibaca oleh mereka yang punya keterkaitan sejarah dengan kota ini; lahir ataupun melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di sini, sempat mampir beberapa waktu di kota ini dan punya kesan mendalam di beberapa tempat di seantero penjuru kota, ataupun yang kiprah kerjanya bersentuhan dengan beberapa bagian kota ini. Buku ini juga sangat bagus untuk menjadi acuan mereka yang ingin berkunjung ke Malang; kemana saja tempat yang wajib disinggahi, budaya setempat, dan hal-hal unik lain yang hanya di Malang bisa ditemuinya.

Selain buku Malang Tempo Doeloe, ada Soerabaia Tempo Doeloe dan Grisse. Buku pop sejarah tentang Surabaya dan Gresik yang ditulis oleh penulis yang sama. Ulasannya menyusul ya, kalau saya sudah menemukan dan membaca buku tentang kedua kota tersebut.

Untuk semangat sang penulis mengumpulkan, merangkai dan berbagi cerita sejarah daerah di nusantara ini sehingga membuka mata kita betapa beragam keunikan dan keindahan yang kita punya di Indonesia, serta semangat sang penulis untuk melibatkan banyak kaum muda dalam penyusunan buku pop sejarah ini, dan tentu saja isi dari kedua buku tersebut yang menarik, lima bintang sangatlah layak untuk buku Malang Tempo Doeloe ini.

Beberapa cuplikan dari buku Malang Tempo Doeloe:

”... Anak buah Tunggul Ametung berkali-kali melakukan penyergapan, namun hasilnya selalu nihil. Whuik! Tunggul Ametung benar-benar kewalahan menghadapi korak yang satu ini. ...”

” ... Suatu hari Ken Arok bertemu dengan seorang Brahmana, Lohgawe namanya. Dengan kebijakan dan kelembutannya ia berhasil melakukan counseling yang membuat Ken Arok terpukau. Mungkin juga saat itu Ken Arok sedang bolong udhele! Makanya semua nasihat yang disampaikan oleh Lohgawe bisa membukakan pikirannya. ...”

” ... Kala itu Kota Malang masih duuuingin dan suuuejuk! Saya bisa membayangkan jika suasana dalam gedung itu pun terasa nyaman dan tidak ongkep.... AC kala itu kan gurung osom! ... Lha, buat apa masang AC, lek gak pingin katuk-en! ...”

”... saya kemudian memberanikan diri menatap lebih dekat ke tanah kuburan itu. Ya, memang bergerak-gerak! Berbagai macam pikiran aneh berkecamuk dalam otak saya. ... Tiba-tiba saja beberapa ekor kecoak besar keluar dari sela-sela bunga tabur .... Begitu banyak bunga ditaburkan di atas tanah itu, hingga kemudian dihuni oleh perbagai macam serangga termasuk kecoak-kecoak tadi. ... Jadi kalau permukaan makam tadi bergerak-gerak, itu bukanlah suatu ... penampakan.”

Penerbitnya:
Bayu Media Publishing
Jl. Puncak Yamin no.20 Malang
+62-341-580638
bayumedia@telkom.net

*I'm proud to be Indonesian ...*

| back |