sumber: http://hurek.blogspot.com/2008/05/dukut-imam-widodo-penulis-soerabaia.html

 

Dukut Imam Widodo penulis Soerabaia Tempo Doeloe


Pak Dukut itu lahir di Malang, 8 Juni 1954, sembilan tahun setelah kita punya negara merdeka dari Kerajaan Belanda. Tapi dia punya kemampuan menguasai sejarah Surabaya tempo dulu memang luar biasa. "Seng ada lawan!" kata orang Ambon.

Pak Dukut tahu begitu banyak seluk-beluk Kota Surabaya, gedung-gedung tua, jalan-jalan lawas, sejarah Tanjung Perak, hingga bagaimana tingkah polah pelacur masa lalu di Surabaya, aktor bisu, jongos Londo.

"Para kelasi Belanda lebih suka wanita pribumi. Sementara para kelasi anak negeri lebih suka memilih wanita mestizo, yaitu wanita peranakan Eropa," tulis Pak Dukut tentang kompleks pelacuran tertua di kawasan Tanjung Perak, dekat pelabuhan.

DUKUT IMAM WIDODO. Nama ini memang identik dengan Soerabaia Tempo Doeloe. Pada pertengahan 2001 Pak Dukut setiap hari menulis kisah-kisah human interest tentang berbagai hal pada masa lalu, khususnya Surabaya pada era Hindia Belanda, di koran Radar Surabaya.

Kita dibuat senyam-senyum sendiri saat membaca naskahnya Pak Dukut. Ini karena kemampuan novelis plus salah satu manajer PT Smelting (Gresik) itu bermain kata-kata ala pemain ludruk. Naskah inti yang hanya beberapa kalimat diramu, dikembangkan, dioplos dengan interpretasi plus humor segar.

Karena itu, Dukut Imam Widodo tak pernah mau disebut sebagai penulis sejarah. Padahal, naskah-naskahnya--yang kemudian dibukukan--sarat dengan cerita sejarah. Referensinya banyak. Dia bahkan menyiapkan dana khusus untuk memburu buku-buku tua di pasar loak di berbagai kota. Lantas, berkat kemampuan Bahasa Belanda dan Bahasa Inggrisnya, Pak Dukut mengajak kita tamasya ke alam tempo doeloe.

"Saya ini kan cuma pemulung data tempo dulu," ujar Pak Dukut yang tinggal di Wiguna Tengah IX/7 Surabaya ini.

Lahir dari papa-mama yang suka membaca, kutu buka, paham beberapa bahasa asing, Dukut kecil sangat suka membaca. Baca apa saja. Habitus inilah yang kemudian membuat dia lebih kutu buku daripada orang tuanya. "Tapi waktu SMA di Malang saya lebih suka melukis. Sampai sekarang teman-teman saya masih menganggap saya ini pelukis," kata bapak tiga anak ini.

Saat bekerja di Papua selama tiga tahun, hobi melukis ini ditinggalkan. Gantinya Dukut menulis untuk mengisi waktu senggang. Dia punya teman Klaverstein, orang Belanda. Mereka akrab karena Dukut bisa bicara Bahasa Belanda dengan fasih. Dukut menyatakan ingin menulis sejarah kota-kota di Jawa Timur.

Tapi bahannya dari mana? Si Londo ini menyarankan agar Dukut mengirim surat ke museum-museum di Belanda. "Klaverstein yang menulis surat, saya tinggal tanda tangan saja. Hehehe," kenangnya.

Maka, sejak awal 1980-an itulah bahan-bahan dan data tentang sejarah kota-kota di Jawa Timur mulai berdatangan. Tak puas, Dukut memburu koleksi buku-buku lawas ke mana saja. Hobi ini membuat dia mabuk membaca buku-buku lama yang sebagian besar dalam bahasa Belanda. Nah, ketika otaknya sudah penuh dengan informasi, mau tidak mau harus "dikanalisasi" [istilah Harmoko] menjadi tulisan.

Semua penulis memang begitu. Latar belakangnya pembaca yang rakus, kelebihan muatan di otak, lalu tumpah sebagai artikel atawa buku. Maka, jangan harap orang yang malas membaca bisa menjadi penulis.

"Selama 15 tahun saya mengumpulkan data-data tentang Soerabaia Tempo Doeloe dari museum-museum di Negeri Belanda, buku-buku kuno, arsip-arsip kuno, koran-koran kuno, foto-foto kuno, iklan-iklan kuno. Apa saja! Saya menulis dengan gaya jenaka karena saya tidak ingin artikel Soerabaia Tempo Doeloe seperti pelajaran sejarah," tulis Dukut Imam Widodo di Radar Surabaya edisi 15 Mei 2001.

Dukut Imam Widodo sudah punya modal keterampilan [skill] menulis. Dia menulis beberapa novel dan cerita pendek pada 1980-an yang menang lomba. Novel Raden Ayu Prabawati juara ketiga sayembara majalah FEMINA, 1987. Novel Sang Penumpas juara ketiga lomba versi Ikatan Penerbit Indonesia, 1988. Cerpen Nyai beroleh penghargaan FEMINA, 1988. Novel Krakatau juara tiga FEMINA, 1988. Novel Raden Ajeng Kartini juara harapan majalah KARTINI, 1988-1989. Novel Perboeroean dimuat bersambung di JAWA POS, 1992. Novel Beirut dimuat harian SURYA, 1992.

Dan masih banyak karya-karya fiksi Dukut Imam Widodo baik berupa novel maupun cerpen. Paling banyak memang novel dan cerita bersambung di surat kabar. Ini menunjukkan bahwa Dukut penulis yang punya napas panjang serta kemampuan menjaga plot, fantasi, serta bermain kata-kata. Dia dalang sejati. Maka, jangan heran kalau Dukut bisa meramu cerita-cerita tempo dulu secara segar dan menarik.

"Ceritanya pendek saja, tapi diuleg-uleg kayak pemain ludruk. Tulisannya sangat menghibur," komentar beberapa penggemar Soerabaia Tempo Doeloe di Radar Surabaya.

Ketika Pak Dukut menyatakan capek, tangannya sampai bekeringat, sehingga harus mengakhiri Soerabaia Tempo Doeloe setelah jalan enam bulan, tak sedikit pembaca Radar Surabaya yang protes. Surat-surat pembaca berdatangan minta Dukut melanjutkan cerita. "Tapi saya sudah gak kuat. Saya harus istirahat dulu, siapa tahu suatu saat saya akan lanjutkan lagi," ujarnya.

Serial Soerabaia Tempo Doeloe terlalu sayang kalau hilang begitu saja. Pemerintah Kota Surabaya, harian Radar Surabaya, bersama Dukut Imam Widodo pada 2002 bekerja sama untuk membukukan cerita-cerita tempo doeloe yang sudah dimuat di Radar Surabaya. Pak Dukut melengkapi dengan foto-foto bagus--yang kurang elok dimuat hitam-putih di koran. Pakai kertas luks. Jadilah Soerabaia Tempo Doeloe [harganya Rp 350 ribu, kalau gak salah] buku yang menjadi opus magnum seorang Dukut Imam Widodo.

Sejak itu Pak Dukut diajak bicara ke mana-mana. Yah, cerita tentang masa lalu Surabaya dengan segala pernak-pernik dan ludruknya. Dukut Imam Widodo pun identik dengan STD, Soerabaia Tempo Doeloe. Dia juga dianggap sebagai ahli sejarah. Atribut yang selalu ditolaknya dalam berbagai kesempatan.

"Dukut itu generasi muda yang sangat peduli pada sejarah kotanya. Dia muncul pada saat yang tepat, ketika banyak gedung-gedung tua di Surabaya telantar, bahkan dihancurkan," ujar Eddy Samson, tokoh Indo-Belanda yang peduli pada nostalgia Hindia-Belanda di Surabaya.

Sukses dengan Soerabaia Tempo Doeloe--kemudian istirahat karena kacapekan--Pak Dukut melanjutkan menulis sejarah Malang Raya era Hindia Belanda. Bahan-bahannya sudah banyak, apalagi dia asli Malang, tidak sulit baginya untuk menulis buku sejenis Soerabaia Tempo Doeloe. Maka, lahirlah Malang Tempo Doeloe terbit pada 2005.

Buku ini dijual sebagai suvenir bagi turis-turis Eropa, khususnya Belanda, yang datang ke Malang. Saya menemukan di Toko Oen, Jalan Basuki Rahmat, Malang, harganya Rp 500 ribu. Larang tenan, Cak!

Oh, ya, sebelumnya Pemerintah Kabupaten Gresik meminta Pak Dukut menulis buku sejenis Soerabaia Tempo Doeloe. Pemerintah setempat yang membiayai. Pak Dukut tinggal cari bahan, meramu sana-sini, mengetik pakai komputer jinjing kesayangannya. Pada 2004 terbit Grissee Tempo Doeloe. Dulu orang-orang Belanda memang menyebut Gresik dengan Grissee. Dibandingkan Malang dan Gresik, buku Soerabaia Tempo Doeloe jauh lebih heboh dan dikenal orang banyak.

Sambil mengurus PT Smelting, perusahaan kerja sama Jepang-Indonesia di Gresik, Pak Dukut masih juga menulis. Ini luar biasa karena dia pandai mencari waktu di sela-sela kesibukan bekerja. Belum lama berselang, awal 2008, Pak Dukut mengumumkan buku terbarunya Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe. Beda dengan Soerabaia Tempo Doeloe, Hikajat menampilkan cerita-cerita tutur atawa dongeng masa lalu di Surabaya. Cerita rakyat alias folklore lah.

"Saya blusukan ke kampung-kampung untuk cari narasumber. Mereka rata-rata sudah sepuh, ada yang 75 tahun," kata Pak Dukut. Hikayat lawas itu misalnya asal-muasal pengantin pegon, Sawunggaling, Joko Dolog. Pak Dukut ingin agar cerita-cerita rakyat Surabaya itu tidak hilang. "Kalau tidak ada yang mendokumentasikan, apakah 10 tahun lagi masih ada?" ujar suami Kiky Ernawaty ini.

Pak Dukut bekerja keras untuk melestarikan aset-aset budaya dan sejarah kotanya. Sementara di sisi lain para investor, yang didukung pemerintah kota, sibuk menghancurkan gedung-gedung tua. Banyak bangunan cagar budaya sudah hilang di Surabaya. "Pemerintah kota harus lebih memperhatikan cagar budaya. Mereka yang menempati bangunan-bangunan itu harus di-support. Apakah pajaknya tidak diibayar penuh, subsidi listrik, biaya perawatan, dan sebagainya," usul Pak Dukut.

Salut Pak Dukut! Kalau aku dadi wali kota, sampeyan tak angkat dadi ketua badan pengurus gedung-gedung tua dan cagar budaya! Hehehehe....
Posted by Lambertus L. Hurek at 10:11 AM

| back |