sumber: http://brangwetan.wordpress.com/2007/10/04/dukut-imam-widodo-sastrawan-penulis-surabaya/

 

DUKUT IMAM WIDODO (sastrawan, penulis, Surabaya)

Profil penulis yang satu ini tergolong unik. Puluhan novel lahir deras dari tangannya, padahal kesibukannya sedemikian padat di perusahaan (terakhir menjabat General Affair Manager PT Smelting, pabrik peleburan dan pemurnian tembaga di Gresik). Boleh dikata bahwa Dukut adalah pelanggan juara dalam sejumlah sayembara mengarang novel atau cerita bersambung yang diselenggarakan majalah wanita. Dan ternyata, bapak tiga anak ini memiliki kebiasaan bahwa setiap malam harus selalu menulis dalam beberapa jam. Ketika sedang sibuk menulis buku misalnya, malah hanya sempat tidur dua jam saja.

Lahir di Malang, 8 Juni 1954, prestasi pertama yang diukirnya adalah menjadi Juara III Sayembara Menulis Novel Majalah Femina tahun 1987 dengan judul Raden Ayu Prabawati, yang kemudian diterbitkan sebagai buku oleh PT Gaya Favorit Press. Dalam tahun yang sama, cerpennya menang Juara Harapan Sayembara Menulis Cerpen Kedutaan Besar Belanda. Pada tahun 1988, empat kejuaraan diraihnya, dua novel, satu cerpen dan satu berupa perwajahan buku fiksi yang dilukisnya sendiri. Tahun 1991 meraih satu juara dan tahun berikutnya malah menyabet dua penghargaan ditambah dua novelnya dimuat di harian Surya dan Jawa Pos.

Sementara Harian Surabaya Post termasuk rutin menerbitkan cerita bersambungnya, mulai tahun 1993, 1994, 1996 (dua kali), 1997, 1998 dan 1999. Sementara itu sejak tahun 1988 dia menulis novel dengan setting Soerabaia Tempo Doeloe (Raden Ajeng Kartini, Sang Pengacara, Perboeroean, Soeara Kebebasan, Koepoe-koepoe dalam Halimoen, Sang Penari, Kalisosok dan Stamboel Soerabaia). Pengetahuannya yang dalam tentang Surabaya masa lalu itulah yang kemudian ditulis sebagai artikel bersambung di harian Radar Surabaya (Januari Juni 2001).

Dan puncaknya, studi pustaka yang dilakukannya sejak tahun 1987 itu dituangkan dalam buku Soerabaia Tempo Doeloe setebal 600 halaman dengan ilustrasi 1.000 foto, menggunakan 120 literatur. Buku itu diterbitkan oleh Pemkot Surabaya dan diluncurkan dalam peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2002 yang lalu.

(sumber: Buku Penghargaan Seniman Jatim, 2002)

| back |